Search This Blog

Memuat...

Selasa, 15 Februari 2011

Ban Di-batik Ulang (dibuat alur lagi) Amankah?

Mungkin sudah banyak yang tahu, tapi istilahnya beda beda. Di daerah saya ban yang sudah gundul sering diakali lagi dengan dibuatkan alur lagi. Istilah untuk ban yang dibuatkan alur lagi ini yaitu ban “batikan” atau ban “garitan” karena memang proses membuatnya di “garit” di coak dengan silet. Silet yang digunakan biasanya silet cukur biasa yang dipatahkan jadi dua dan setengah patahnnya dilengkungkan untuk mencoak alur ban.

Kalau dilihat sekilas, apalagi yang mencoak lumayan ahli, tidak terlihat kalau ban daur ulang. Namun setelah diamati ada sebagian alur yang tidak rata. Walaupun terlihat bagus masalahnya adalah amankah ban ini digunakan?

macam lapisan ban sepeda motor

Ban dari sononya dari pabriknya dibuat dengan berbagai lapisan atau ply. Setiap lapisan dibuat dengan fungsi masing masing. Fungsi lapisan paling luar yang terdapat alur dirancang untuk mencengkeram aspal. Berbeda dengan bagian dinding walaupun sama sama terbuat dari karet namun difungsikan untuk menyangga beban, jadi materialnya berbeda. Kedalaman alur ban sudah dirancang dengan aman. Apabila digunakan sampai alur habis belum menyentuh lapisan selanjutnya. Nah lain lagi kalau alur ini diperdalam. Sewaktu waktu ban habis alurnya aspal bisa menyentuh lapisan selanjutnya yang notabene tidak dirancang untuk mencengkeram aspal.

Ban yang alurnya diperdalam ini walaupun terlihat alurnya masih dalam, sejatinya ban yang sudah tipis, dan rentan untuk terkikis dan masuk ke lapisan selanjutnya. Lawong pakai ban normal dengan alur normal saja kadang kala bisa terpeleset, apalagi pakai ini?

Kebanyakan memilih / melakukan ini disebabkan masalah kantong. Ban yang dibuatkan alur ulang ini tentu saja harganya murah. Kalau untuk situasi darurat lupa nggak bawa dompet, trus uang ngepas dan kebetulan tukang tambalnya jual ban ini ya gimana lagi. Tapi sebaiknya tidak dipakai untuk jangka lama, untuk pemakaian sehari hari. Sampai rumah segera diganti dengan ban yang normal.

0 komentar: